Kemampuan numerasi siswa SMP di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam era transformasi digital global. Hasil Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan pencapaian numerasi peserta didik di Indonesia konsisten berada pada kategori bawah, di mana lebih dari 82% siswa belum mencapai taraf kompetensi minimum matematika dasar. Di era digital saat ini, kemampuan bernalar logis, memecahkan masalah kontekstual, serta mengolah data kuantitatif menjadi syarat mutlak bagi lulusan agar mampu bersaing secara global. Namun, metode pembelajaran matematika konvensional yang cenderung berfokus pada penghafalan rumus tanpa keterkaitan aplikasi kehidupan sehari-hari menjadi hambatan utama dalam membangun iklim belajar numerasi yang adaptif.
Permasalahan utama yang dihadapi SMP Negeri 1 Selogiri adalah masih rendahnya kemampuan numerasi peserta didik. Kondisi ini tidak hanya berdasarkan pengamatan guru, tetapi telah berpotret pada asesmen harian pada tahun 2025. Capaian indicator kemampuan numerasi sekolah berada pada angka 41,74% dan termasuk kategori sedang. Artinya, kemampuan peserta didik dalam menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan permasalah dalam berbagai konteks masih belum optimal. Dari keseluruhan peserta didik, terdappat 58,26% peserta didik yang belum memenuhi standar kompetensi minimal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Sebagian besar peserta didik masih mengalami eksulitan Ketika dihadapkan pada persoalan yang membutuhkan penerapan matematika dalam situasi nyata, interpretasi data, pemecahan masalah, serta pengambilan Keputusan berdasarkan informasi kuantitatif. Permasalahan ini diperparah oleh:
- Pembelajaran terlalu prosedural;
- Numerasi hanya milik guru matematika;
- Asesmen belum mendorong penalaran;
- Penguatan numerasi belum dilaksanakn secara konsisten.
Jika kondisi tersebut tidak segera ditangani, peserta didik berpotensi mengalami kesulitan dalam menghadapi persoalan yang membutuhkan kemampuan berpikir logis dan pengambilan keputusan berdasarkan data. Dampaknya tidak hanya terlihat pada nilai matematika, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan peserta didik dalam memahami informasi, memecahkan masalah sehari-hari, berpikir kritis dan mengambil keputusan secara rasional